Aliran Filsafat Idealisme beserta Kesimpulannya


Langkah awal munculnya 
idealisme

Kata idealisme digunakan yang pertama kali oleh Leibniz pada awal abad ke-18, dengan tujuan menerapkan istilah tersebut pada rangkaian pemikiran Plato (idea) dan sebagai alat khusus untuk membandingkan dengan pemikiran materialisme Epicurus.

Dari itu, kemudian orang mengetahui bahwa idealisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami melalui hubungan dengan jiwa dan roh. Kata idealisme sendiri diambil dari kata idea, yaitu sesuatu yang ada dalam jiwa. Dengan landasanargumen epistemologisnya yang mandiri. Oleh karena itu, para teis yang mengajarkan bahwa materi bergantung pada ruh tidak disebut idealis karena tidak menggunakan argumen epistemologis yang digunakan idealisme.

Idealisme juga diartikan sebagai suatu ajaran, ideologi atau mazhab pemikiran yang berpandangan bahwa realitas ini terdiri dari ruh (roh) atau jiwa, akal dan pikiran dll. Proses ini merupakan proses yang sangat penting dalam sejarah pemikiran manusia. 

Sebab pada awalnya, dalam dunia filsafat Barat, kita hanya menemukannya dalam bentuk ajaran murni Plato bahwa dunia idea adalah realitas yang sebenarnya. Adapun dunia nyata yang menempati ruang ini hanyalah bayangan dari konsepsi realitas idea itu sendiri. 

Menurut Aristoteles dalam ajarannya, bahwa roh dengan esensi, menggambarkan alam pikiran sebagai energi (entelechie) yang ada pada objek dan memberikan pengaruhnya dari objek tersebut. Bahkan dapat dikatakan bahwa selama berabad-abad, idealisme tidak pernah hilang sama sekali. Bahkan di Abad Pertengahan, satu-satunya sudut pandang yang disetujui oleh semua aliran pemikiran adalah dasar dari idealisme ini.

Tepat pada abad ke-18 menuju ke-19, pemikirann idealisme mencapai puncaknya, ketika Jerman masih memiliki pengaruh penting di Eropa. Dimana selama Pencerahan, para filsuf yang mengakui kedua aliran pemikiran, seperti Descartes dan Spinoza, mengakui prinsip spiritual dan material, dan juga mengakui bahwa faktor spiritual lebih penting daripada faktor material. Lebih jauh lagi, semua kelompok agama dapat digolongkan sebagai penganut idealisme paling setia yang pernah ada, meskipun pembenaran filosofisnya kurang mendalam. 

Nah berikut para tokoh idealisme dan Pemikiran idealismenya

Plato (477-347)
Konsep ilmiah Plato terbagi dalam dua kategori, sensual dan mental. Kualitas indrawi ini tidak permanen, artinya berubah dan hanya bersifat sementara. Dan menghasilkan nilai-nilai yang tidak berubah dan psikologi kebijaksanaan. Sedangkan keberadaan kebenaran sesungguhnya ada pada dunia idea yang sebagian kecilnya tampak daripada realita yang kita indera. 

Liebnitz (1685-1753 M)
Leibniz adalah orang pertama yang menggunakan istilah idealisme pada akhir abad ke-17, yang merupakan aliran filsafat yang memandang semangat dan gagasan sebagai kunci sifat realitas. Dari abad ke-17 hingga awal abad ke-20, istilah ini banyak digunakan untuk menjelaskan filsafat. Idealisme menawarkan doktrin bahwa hakikat dunia material hanya dapat dipahami dalam ketergantungannya pada jiwa (mind) dan ruh (spirit). Kata tersebut diambil dari “idea”.

G. Berkeley (1685-1753)
Sering disebut bapak spiritualisme, George Berkeley mengusulkan salah satu bentuknya yang paling murni di awal abad ke-18.
Dia berargumen bahwa pengetahuan kita harus didasarkan pada persepsi kita, dan sebenarnya tidak ada objek "nyata" di balik persepsi seseorang yang dapat diketahui, karena pada dasarnya yang dianggap "nyata" sebenarnya adalah persepsi itu sendiri.

Dia menjelaskan mengapa masing-masing dari kita tampaknya memiliki banyak jenis persepsi yang sama untuk suatu objek, melihat Tuhan sebagai alasan dari semua persepsi kita. Gagasan Berkeley ini seringkali disebut idealisme subyektif atau idealisme dogmatis.

J.Fichte (1762-1814 M)
Johann Gottlieb Fichte membantah konsep noumenon Kant dengan alasan bahwa segala bentuk pengenalan eksternal sama saja dengan mengenali hal-hal material yang nyata. Sebaliknya, Fichte mengklaim bahwa kesadaran menciptakan landasannya sendiri, dan tidak memiliki landasan di dunia nyata.
Dia adalah orang pertama yang mengusulkan teori pengetahuan di mana sama sekali tidak ada sesuatu pun di luar pemikiran itu sendiri.

F. Schelling (1755-1854 M)
Friedrich Schelling juga membangun di atas karya Berkeley, Kant, dan bersama Hegel mengembangkan idealisme teleologis dan konsep “absolut”, yang kemudian dikembangkan Hegel lebih lanjut menjadi idealisme absolut.

GWF Hegel (1770-1831 M)
GWF Hegel adalah salah satu idealis Jerman yang percaya bahwa doktrin apa pun yang menyatakan bahwa kualitas terbatas benar-benar nyata adalah salah karena kualitas terbatas bergantung pada kualitas terbatas lainnya untuk menentukannya.

Sering disebut sebagai Idealisme Mutlak, gagasan Hegel didasarkan pada keyakinan Plato bahwa penentuan nasib sendiri melalui penggunaan akal adalah untuk mencapai jenis realitas yang lebih tinggi daripada objek fisik.

Immanuel Kant (1724-1881 M)
Immanuel Kant lahir di Königsberg pada tahun 1724. Dia percaya bahwa pengalaman ditentukan oleh indera, yaitu dalam bentuk metafisika dan psikologi. Kant juga menentang aliran metafisika. Dia juga menunjukkan bahwa indera dan akal bekerja sama untuk menghasilkan jenis pengetahuan tertentu.

Pada dasarnya, Immanuel Kant yang memulai posisi empiris Berkeley, tetapi dia berpendapat bahwa gagasan membentuk persepsi kita tentang dunia sebagai ruang-waktu. Menurut Kant, pikiran bukanlah selembar kertas kosong, tetapi dilengkapi dengan kategori untuk mengatur kesan indrawi kita, meskipun kita secara fisik tidak dapat diakses oleh Dzat yang memancarkan atau menghasilkan fenomena yang kita rasakan.

Arthur Schopenhauer (1788-1860 M)
Arthur Schopenhauer pada dasarnya dibangun di atas pembagian Kant tentang alam semesta menjadi fenomena dan noumena, menunjukkan bahwa realitas noumenal adalah tunggal, sedangkan pengalaman fenomenal melibatkan keragaman, dan secara efektif menyatakan bahwa segala sesuatu pada akhirnya adalah tindakan kehendak.

David Hume (1711-1776 M)
David Hume percaya bahwa pikiran adalah yang utama dan materi adalah yang kedua. Jadi dia mengutamakan ide karena materi diciptakan oleh ide.

Al-Ghazali (1058-1111 M)
Padahal, Ghazali memahami empirisme dalam pendidikan lebih baik karena dia tidak percaya pada pengetahuan yang diperoleh dengan akal dan pengetahuan yang dihasilkan oleh panca indera. Tapi dia bersikeras pada idealisme, menggunakan agama sebagai dasar pandangannya.

Kesimpulan singkat Idealisme

Aliran filsafat idealisme adalah aliran filsafat yang mengagungkan jiwa. Dimana Pertemuan antara jiwa dan cita-cita akhirnya melahirkan angan-angan yang sebenarnya kenyataan sesungguhnya, itulah dunia idea. 

Pada akhirnya dapat kita tarik benang merahnya dengan mengelompokkan gagasan utama idealisme sebagai berikut:

(1) Keyakinan akan keberadaan Tuhan adalah gagasan tertinggi dari peristiwa kosmik

(2) Dunia adalah keseluruhan, kesatuan logika dan bersifat spritual

(3) Realitas sejati ialah sesuatu yang bersifat spiritual

(4) Idealisme berpendapat bahwa manusia menilai roh atau jiwa lebih berharga dan lebih tinggi bagi kehidupan manusia daripada materi

(5) Idealisme beranggapan bahwa pengetahuan timbul dan lahir dari peristiwa-peristiwa dalam jiwa manusia

(6) Idealisme meyakini bahwa tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan manusia yang berkepribadian luhur, standar kehidupan spiritual ideal yang lebih tinggi, dan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat.

Demikianlah. 


0 Response to "Aliran Filsafat Idealisme beserta Kesimpulannya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel