Menelaah Esensi Ajaran Filsafat Stoa


Stoicisme atau yang lebih dikenal Stoa adalah aliran filsafat Yunani kuno yang menekankan pentingnya kebajikan, ketenangan, dan penerimaan. Filsafat ini didirikan oleh Zeno (Citium) pada abad ke-4 SM dan mempunyai pengaruh besar terhadap pemikiran Barat selama berabad-abad.

Dalam Stoicisme, kebajikan diartikan sebagai hidup sesuai dengan alam. Artinya hidup sesuai dengan kehendak Tuhan atau alam semesta, yang diyakini sebagai kekuatan yang mengatur segala sesuatu. Kebajikan juga diartikan sebagai hidup menurut akal sehat dan logika.

Stoicisme mengajarkan bahwa manusia harus melepaskan diri dari keterikatan pada hal-hal di luar kendalinya, seperti kekayaan, kekuasaan, dan kebahagiaan. Manusia seharusnya hanya fokus pada hal-hal yang dapat mereka kendalikan, seperti pikiran dan tindakan mereka sendiri.

Pandangan Stoicisme tentang 
Kebahagiaan

Menurut konsep Stoicisme, cara paling sederhana untuk mencapai kebahagiaan didasarkan pada hal-hal berikut:

Kemampuan melihat diri sendiri, dunia, dan orang lain secara objektif dan menerima mereka apa adanya.

Menahan diri dari menginginkan kesenangan atau takut akan rasa sakit dan penderitaan. Dan memahami perbedaan antara kekuatan dan kelemahan.

Adapun inti ajaran daripada Stoicisme yang diajukan sebagai apa yang harus dimiliki seseorang untuk mencapai kebahagiaan dan ketenangan hati terbagi menjadi 7 bagian sebagai berikut:

1. Kebahagiaan adalah kebajikan

Stoicisme mengajarkan bahwa kebahagiaan adalah hasil dari kebajikan. Kebajikan berarti hidup sesuai dengan alam, alam semesta ingin kita hidup bahagia. Oleh karena itu, jika kita ingin bahagia, kita harus hidup sesuai dengan kebajikan.

2. Fokus pada apa yang dapat 
kendalikan

Stoicisme mengajarkan bahwa kita harus fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan, seperti pikiran dan tindakan kita sendiri. Hal-hal di luar kendali kita, seperti cuaca, peristiwa alam, atau tindakan orang lain, tidak boleh membuat kita stres atau cemas.

3. Terimalah hal-hal yang tidak 
dapat  kendalikan

Stoicisme mengajarkan bahwa kita harus menerima hal-hal yang berada di luar kendali kita. Hal-hal di luar kendali kita adalah bagian dari alam semesta dan kita tidak dapat mengubahnya. Oleh karena itu, kita harus menerimanya dengan tenang dan bijaksana.

4. Hidup sesuai alam

Stoicisme mengajarkan bahwa kita harus hidup sesuai dengan alam. Artinya hidup sesuai dengan kehendak Tuhan atau alam semesta, yang diyakini sebagai kekuatan yang mengatur segala sesuatu.

5. Bersikap Bijaksana

Ini dari ajaran Stoicisme lainnya ialah mengajarkan bahwa segala tindakan kita harus dilakukan secara bijaksana. Dimana bijaksana disini berarti bertindak berdasarkan akal sehat dan logika.

6. Bersikap Berani 

Stoicisme mengajarkan kita bahwa kita harus berani dalam menghadapi kesulitan. Keberanian berarti menghadapi ketakutan kita dan tidak menyerah pada kesulitan.

7. Bersikap Adil

Ajaran terakhir Stoicisme yaitu mengajarkan kita bahwa semua tindakan harus adil. Keadilan berarti memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin orang lain memperlakukan kita.


Kesimpulannya

Filsafat Stoa membuat kita bertanggung jawab atas sesuatu. Konsep ini berasumsi bahwa rasa sakit yang kita alami disebabkan oleh diri kita sendiri.

Kita sebenarnya bisa memutuskan apa yang ingin kita rasakan, sakit atau senang. Di luar itu, manusia perlu melihat apa yang bisa dikendalikan dan apa yang tidak bisa dikendalikan. Banyak orang yang akhirnya tidak bahagia karena mencoba mengendalikan hal-hal yang tidak dapat mereka kendalikan.

0 Response to "Menelaah Esensi Ajaran Filsafat Stoa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel