Demokrasi dalam Pandangan Al-Maududi


Biografi dan Pemikiran Awal

Sayyid Abul A'la Maududi, juga dikenal sebagai Mawlana atau Syekh Sayyid Abul A'la Maududi la Maududi), seorang jurnalis Sunni Pakistan, teolog dan filsuf politik, dan seorang pemikir Islam penting abad ke-20. Ia juga seorang politisi di negara tempat partai Islam Jamaat-e-Islami bermarkas.

Lahir pada 25 September 1903, Aurangabad, India dan Meninggal pa 22 September 1979, Buffalo, New York, AS. Dalam perkembangan pemikiran dan ilmunya, ia dipengaruhi oleh tokoh-tokoh Islam seperti Muhammad Iqbal, Ibnu Taimiyah, Rasid al-Rida dan Syekh Waliullah Delawi,

Al-Maududi lahir dari keluarga Muslim Sunni yang berakar pada persaudaraan Sufi Chishti, yang banyak anggota keluarganya adalah pembimbing spiritual (pir). Semasa muda ia bertemu dan belajar dengan banyak cendekiawan Islam, dan pada tahun 1920-an ia menjadi tertarik pada Ahl-i Hadis, sebuah gerakan Islam yang menekankan reformasi Puritan.

Al-Maududi dikenal sebagai seorang revivalis Islam yang berpengaruh, pemikir Islam, penulis produktif dan aktivis politik, dan anggota partai Jamaat-e-Islami -Islami, sebuah organisasi politik Islam yang sangat membentuk karakter Islam di Pakistan.

Selain itu, Al Maududi adalah salah satu pemikir terbesar di bidang ekonomi Islam. Sekarang dikenal sebagai Andra Prades. Tulisan-tulisannya mencakup banyak bidang politik, kemasyarakatan, ekonomi, budaya dan agama, yang dimuat dalam bukunya Jihad Islam.

Deobandisme adalah aliran Indo-Islam yang menggabungkan pemikiran Salafi yang ketat dan tasawuf" dan memberikan pengaruh besar pada Maududi, yang pada tahun 1926 menjadi pendiri Deobandi Ulama ('alim). Namun, dia tidak pernah menyebut dirinya sebagai anggota 'Ulama. ', mengingat ketidakmampuan mereka memenuhi kebutuhan masyarakat Muslim modern.

Di kalangan Islamis global, Maududi adalah salah satu orang pertama yang mengartikulasikan visi politik Islam modern dan membentuk jalur independen dari kepemimpinan Islam tradisional (ulama) dan pemimpin nasionalis. Tulisan-tulisan dan kehidupan politiknya berdampak besar pada Islamisme global, menginspirasi orang lain di seluruh dunia Muslim, baik Sunni maupun Syiah.

Pada masa penjajahan di India, Al-Maududi berupaya menyatukan berbagai komponen komunitas Muslim India menjadi sebuah komunitas luas berdasarkan kesamaan identitas Islam dan visi politik yang terpadu. Meskipun awalnya ia adalah seorang nasionalis yang mendukung persatuan India, tanggapannya terhadap berkembangnya gerakan nasionalis Hindu adalah dengan mengambil sikap komunis yang defensif, dengan menekankan perbedaan antara Muslim dan non-Muslim.

Bahkan dengan mempertimbangkan hal ini, ia dan Jamaat-e-Islami (JI) pada awalnya tidak menganjurkan negara Muslim yang terpisah, namun membayangkan India sendiri sebagai negara Islam. Setelah kemerdekaan, Jemaah Islamiyah mengalihkan energinya untuk mempromosikan Islamisasi negara Pakistan, dan Maududi bertransformasi dari seorang ideolog menjadi aktivis politik.


Pandangan Al-Maududi tentang 
Demokrasi

Ungkapan Al-Maududi yang menerjemahkan isi pandangannya tentang demokrasi adalah: Bahwasanya "Islam adalah Anti-Tesis bagi demokrasi Barat.”

Dalam ungkapan awalnya seperti di atas, Al-Maududi dengan tegas menolak demokrasi. Ia percaya bahwa Islam tidak mengenal konsep demokrasi, yang memberikan kekuasaan yang sangat besar kepada masyarakat untuk memutuskan segala sesuatu. Demokrasi adalah buatan manusia, produk dari perlawanan Barat terhadap agama, dan karena itu cenderung bersifat sekuler.

Oleh karena itu, Al-Maududi memandang demokrasi modern (Barat) sebagai sesuatu yang harus dihindari. Ia meyakini Islam menganut ideologi teokratis (berdasarkan hukum Tuhan). Tentu saja, bukan teokrasi yang dipraktikkan di Abad Pertengahan Barat yang memberikan kekuasaan tak terbatas kepada para pendeta. Oleh karena itu, Al-Maududi memperkenalkan istilah ini.

Istilah “theo-demokrasi” mengacu pada pemerintahan demokratis berdasarkan ketuhanan di mana umat Islam diberikan kedaulatan terbatas di bawah kekuasaan Allah. Dengan kata lain, gagasan Al-Maududi tentang demokrasi teologis merupakan langkah bijak melawan pengaruh dominasi sekuler Barat. Pemikiran politik Maududi diawali dari pemahaman mendalam terhadap ajaran Tauhid itu sendiri. 

Berangkat dari pemikiran diatas, Al-Maududi dengan ungkapan pemikiran politiknya yaitu Theo-demokrasi. Yakni sebuah pemikiran baru yang meyakini bahwa “Islam adalah agama utuh yang membimbing dan mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan politik, menjadi landasan konsep ini.” 

Bermula dengan itu Al-Maududi secara langsung meyakini bahwa konsep kedaulatan sebenarnya ada di tangan Tuhan dan bukan di tangan rakyat. Oleh karena itu, Maududi merupakan seorang pemikir yang tidak membela gagasan kedaulatan rakyat. Sebab baginya, sistem politik Islam merupakan kesatuan artikulasi Tuhan (tauhid), penyampai risalah (nabi), dan Khilafah. Dengan demikian genaplah gagasan Al-Maududi yang dianggap kontroversial dan mendapat banyak kritik oleh kalangan barat maupun timur.

Demikianlah kumpulan pemikiran dan konsep dari seorang Syech Al-Maududi yang mungkin belum pernah kita bacakan atau yang mungkin sudah anda baca dibandingkan dengan saya. Silahkan dibaca ya bila ada kekurangan saya meminta maaf atas ketidaksempurnaanya. 

0 Response to "Demokrasi dalam Pandangan Al-Maududi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel