5 Filsuf Berpengaruh dalam Kajian Filsafat Strukturalisme


Aliran Strukturalisme adalah warna baru dalam dunia filsafat, kemunculannya sekitar paruh kedua abad ke-20 dan berkembang menjadi salah satu metode terpopuler dalam bidang akademik terkait bahasa, budaya, dan analisis sosial.

Strukturalisme adalah pemikiran filosofis yang gagasan utamanya adalah bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai struktur yang sama dan permanen. Kedudukan seseorang bergantung pada kedudukan dan fungsinya dalam sistem, bukan pada dirinya sendiri.

Dimana yang harus dipahami dalam kaitannya dengan hubungan manusia dan sesuatu yang lebih besar. Dengan kata lain, sistem itu bersifat universal atau umum dan disebut sistem struktural. Strukturalisme berupaya mengungkap struktur di balik segala sesuatu yang dilakukan, dipikirkan, dan dirasakan manusia.

Secara teoritis, strukturalisme merupakan suatu cara pandang yang berupaya mengesampingkan individu manusia dan lebih memperhatikan sistem hubungan dalam berbagai bentuk untuk mengungkap situasi makna yang sebenarnya.

Ungkapan ini diperkuat dengan pandangan filsuf Simon Blackburn. “Strukturalisme percaya bahwa fenomena kehidupan manusia hanya dapat dipahami melalui minat. Hubungan ini mewakili variasi struktural dan lokal dalam fenomena yang muncul di permukaan, dan bahwa terdapat hukum konstan dalam budaya abstrak.”

Sebelum lebih jauh, tentunya ada hal ingin kita lihat dari perjalanan strukturalisme ini, salah satunya orang-orang hebat dibalik perkembangan aliran ini. Berikut adalah 5 tokoh yang benar-benar memiliki pengaruh dalam strukturalisme. 

1. Roland Gerard Barthes

Roland Gerard Barthes adalah seorang ahli teori sastra, filsuf, kritikus dan ahli semiotika, lahir di Perancis pada tanggal 12 November 1915 dan meninggal pada tanggal 26 Maret 1980. Ide-ide Barthes mengeksplorasi berbagai bidang dan mempengaruhi perkembangan banyak aliran teori, termasuk strukturalisme, semiotika, teori sosial, teori desain, antropologi, dan poststrukturalisme. Ia dikenal mengembangkan dan memperluas bidang semiotika melalui analisis berbagai sistem semiotika, khususnya yang berasal dari budaya populer Barat.

Berkaitan dengan perspektif strukturalisnya, Barthes dikenal karena fokusnya pada pengembangan dan perluasan bidang semiotika melalui analisis. Berbagai sistem simbol, terutama yang berasal dari budaya populer Barat. Dari perkembangan kajian tanda-tanda tersebut berguna dalam interogasi untuk menunjukkan betapa menipunya sesuatu.

Sama seperti dalam bukunya The System of Fashion, Barthes menunjukkan bagaimana logo palsu dapat dengan mudah diubah menjadi kata-kata, dalam karyanya ini Barthes juga menjelaskan bagaimana dalam dunia mode, teks apa pun dapat dijiwai dengan penekanan borjuis yang idealis.

Roland Barthes juga menerapkan analisis strukturalis pada kritik sastra, memperlakukan berbagai ekspresi atau analisis linguistik sebagai bahasa yang berbeda. Tugas kritik sastra adalah menerjemahkan, yaitu mengungkapkan dalam bahasa sistem formal yang dikembangkan pengarang. Padahal hal ini berkaitan dengan kondisi saat itu.

Adapun teori Barthes yang dikenal yakni, Teori Kode proaretik adalah tindakan naratif dasar. Teori semiotik Roland Barthes berpendapat bahwa kode praseksual atau kode tindakan merupakan perangkat utama dalam teks yang dibaca orang, artinya semua teks bersifat naratif (Kurniawan, 2001: 69).


2. Paul Michel Foucault

Foucault adalah seorang filsuf yang lahir di Poitiers, Perancis, pada tanggal 15 Oktober 1926. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di Paris pada tanggal 25 Juni 1984, pada usia 57 tahun. Foucault adalah seorang filsuf, pemikir poststrukturalis dan postmodernis, meskipun Foucault selalu menolak label tersebut dan lebih memilihnya sebagai sejarah kritis modernitas.

Pemikiran strukturalis Foucault lebih mengarah pada filsafat, ia mengatakan bahwa strukturalisme modern atau post-strukturalisme dalam bidang filsafat adalah mendekati subjektivitas antargenerasi dalam wacana kognitif imitasi dan ekspresi.

Foucault menjadi pemikir terpenting yang menyumbangkan gagasannya melalui karya-karyanya yang berkaitan dengan pendekatan poststruktural. Karyanya membedakan antara poststrukturalisme dan strukturalisme. Meskipun strukturalisme sangat dipengaruhi oleh para ahli bahasa, pendekatan Foucault dan poststrukturalisme secara umum menunjukkan beragam masukan teoretis.

Selain itu, epistemologi poststrukturalis yang diambil dari pemikiran Michel Foucault telah memberikan kontribusi penting terhadap pemahaman wacana, epistemologi, arkeologi, dan hubungan antara pengetahuan, kekuasaan, dan kebenaran. Pendekatan ini memandang pengetahuan sebagai suatu bentuk kekuasaan yang mempengaruhi konstruksi subjektivitas individu dan struktur sosial. 

Foucault berargumen bahwa pengetahuan bukanlah suatu entitas yang netral atau obyektif, melainkan diproduksi dan digunakan dalam konteks kekuasaan yang melibatkan konflik dan dominasi. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa pengetahuan mempunyai fungsi kekuasaan untuk mengatur perilaku, membangkitkan norma-norma sosial, dan memperkuat hierarki kekuasaan yang ada.

3. Jacques Lacan

Jacques Marie-Emile Lacan adalah seorang psikoanalis terkenal yang lahir di Perancis pada tanggal 13 April 1901. Ia meninggal pada tanggal 9 September 1981 dalam usia 80 tahun.

Dalam psikologinya, Lacan mengembangkan model berbasis semiotika Sigmund Freud dengan bantuan model linguistik Ferdinand de Saussure dan Lévi de Strauss.Dalam psikoanalisis, bahasa dan argumen merupakan rangkaian kode, dan bahasa dalam dialog dapat mengungkap ketidaksadaran antara psikolog dan psikolog. . seseorang atau pasien, karena bahasa selalu bergerak dan dinamis, termasuk metafora, metonimi, kondensasi, dan transferensi.

Jadi, menurut Lacan, dialog atau percakapan adalah sebuah rantai yang mengungkap tanda-tanda mimpi, gejala neurotik, perbuatan salah, dan sebagainya.


4. Claude Levi-Strauss

Claude Lévi-Strauss adalah seorang Bapak antropologi modern, ia lahir di Perancis pada tanggal 28 November 1908. dan meninggal pada tanggal 30 Oktober 2009, pada usia 100 tahun.

Teori Strukturalisme Lévi-Strauss adalah ketika ia berpendapat bahwa makna diperoleh bukan dari unsur-unsur yang dihasilkan, tetapi dari hubungan di antara unsur-unsur tersebut. Unsur-unsur mitos merupakan kategori-kategori mitos. Mitos-mitos ini berasal dari penciptaan hubungan analogis.

Jadi dia memandang bahasa dan budaya sedikit berbeda. Lévi-Strauss menolak gagasan bahwa bahasa mempengaruhi budaya dan sebaliknya, karena menurutnya kedua hal tersebut berasal dari akal manusia. Berdasarkan kesamaan tersebut, Lévi-Strauss percaya bahwa model bahasa cocok untuk mempelajari fenomena budaya.

Claude Lévi-Strauss percaya bahwa pemikiran primitif memiliki struktur yang sama dengan pemikiran beradab dan bahwa karakteristik manusia sama di mana pun. Pengamatan tersebut tertuang dalam bukunya Tropical Melancholy yang mempunyai pendekatan simultan, antropologis dan linguistik, dengan unsur-unsurnya terfokus pada mitologi, adat istiadat dan masyarakat itu sendiri.

Dalam proses analisis, manusia dipandang sebagai bagian dari suatu struktur yang tidak dibentuk oleh analisis, melainkan dilenyapkan oleh analisis. Karena pergeseran dari menekankan pada orang menjadi menekankan pada struktur merupakan ciri umum pemikiran strukturalisnya.


5. Ferdinand de Saussure

Ferdinand de Saussure adalah seorang ahli bahasa dari Swiss yang dianggap sebagai salah satu bapak linguistik dan simbiologi modern. Ia dilahirkan di Jenewa pada tanggal 26 November 1857 dan meninggal di Vufflens-le-Chateau, Swiss pada tanggal 22 Februari 1913.

Ferdinand de Saussure juga dikenal sebagai penemu struktur bahasa (linguistik). Untuk mengalahkan sejarawan yang menggunakan metode linguistik, Ferdinand de Saussure menganjurkan metode ilmiah melalui sistem elemen dan aturan yang muncul yang dirancang untuk membantu komunikasi sosial. Bagi Ferdinand de Saussure memandang komunikasi sebagai gudang simbol-simbol diskursif yang disediakan oleh masyarakat.

Bagi Saussure, bahasa merupakan penjelasan utama dunia, sehingga memerlukan ilmu yang disebut semiotika atau ilmu tanda (ilmu semiotika). dimana ilmu ini merupakan studi tentang makna pengambilan keputusan dan mencakup studi tentang tanda dan proses semiotik seperti indikasi, penunjukan, kesamaan, analogi, metafora, simbolisme, makna, dan komunikasi.

Penulis: AB


0 Response to "5 Filsuf Berpengaruh dalam Kajian Filsafat Strukturalisme"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel