Apa Tujuan Dari Metode Filsafat Dekonstruksivisme Jacques Derrida?


Pengertian Dekonstruksivisme

Dekonstruksivisme adalah satu metode filsafat post-modernisme yang berupaya mempertanyakan kembali teori-teori yang telah mapan yang dibangun oleh pemikiran-pemikiran paham modernis, dengan cara meneliti dan menyusunnya dengan teori-teori yang lebih sesuai untuk memahami realitas sosial saat ini. Serta keragaman dan realitas alam.

Hampir setiap bangunan atau konstruksi ilmu dasar modern yang mapan, baik dalam sosiologi, psikologi, antropologi, sejarah, atau bahkan apa yang dianggap standar dalam ilmu alam sering disebut teori besar sekalipun masih dipertanyakan oleh postmodernisme.

Hal ini terjadi karena grand theory dipandang terlalu skematis, menyederhanakan permasalahan nyata dan dianggap mengaburkan munculnya teori-teori lain yang mungkin lebih membantu dalam memahami realitas dan memecahkan masalah.

Oleh karena itu, apa yang ditolak oleh para pemikir postmodern adalah klaim bahwa ada teori-teori baku yang tidak dapat dibantah. Dimana para pelaku utama pemikiran postmodernis tidak percaya pada validitas konstruksi ilmiah standar, atau pada validitas standar yang dikembangkan oleh generasi modernis sebelumnya. 

Karena menurutnya, standar tersebut terlalu kaku dan terlalu umum, serta tidak cocok untuk melihat realitas yang lebih kompleks. Dalam teori sosiologi modern, para ilmuwan cenderung memandang fenomena keagamaan sebagai domain pengalaman yang sangat individual. Pengalaman beragama tidak relevan dan harus dipisahkan dari realitas kehidupan dalam realitas sosial yang ada.

Sedangkan postmodernisme sebaliknya berharap dapat melihat fenomena sosial, fenomena keagamaan, dan realitas material sebagaimana adanya tanpa harus dibatasi oleh asumsi-asumsi dasar atau standar teori dan standar yang diciptakan pada era modernisme. Oleh karena itu, bangunan keilmuan yang dibangun dengan susah payah oleh generasi modernis perlu diubah, diperbaiki dan ditingkatkan oleh para pemikir postmodernis.

Seperti dalam kata-kata Amin Abdullah yang disebut dengan “dekonstruksi”, yaitu "upaya mempertanyakan kembali teori-teori yang sudah mapan yang dibangun oleh pemikiran modernis, kemudian mencari dan mengembangkan teori-teori yang lebih bermanfaat dalam memahami realitas sosial dan keagamaan. Atau realitas yang terungkap dan realitas alamiah pada saat ini".

Sejarah Awal Lahirnya Metode Dekonstruksivisme

Kalau berbicara dekonstruksi, kita akan ingat seseorang yang bernama Jasques Derrida. Jacques Derrida adalah seorang filsuf Perancis yang dianggap sebagai pendiri dekonstruksi, doktrin bahwa segala sesuatu dikonstruksi oleh manusia, termasuk bahasa. Dimana semua kata dalam suatu bahasa mengacu pada kata lain dalam bahasa yang sama, bukan pada dunia di luar bahasa tersebut.

Derrida menganggap dekonstruksi adalah suatu metode membaca sebuah teks secara cermat sehingga premis-premis yang mendasarinya dapat digunakan untuk melemahkan argumen-argumen yang didasarkan pada premis-premis tersebut.

Dekonstruksi dengan demikian menunjukkan bahwa benih-benih kehancuran tekstual hadir dalam premis-premis tersebut, yang diwujudkan dalam bentuk inkonsistensi dan paradoks dalam premis-premis dan penggunaan konsep-konsep. Artinya, teks selalu gagal menurut standarnya sendiri.

Oleh karena itu, dekonstruksi mengingkari kemungkinan adanya makna tunggal dan koheren dalam sebuah teks. Dekonstruksi berupaya membedah sebuah teks untuk mengungkap fondasinya yang tidak koheren. Derrida menggunakan konsep "perbedaan" untuk merujuk pada kemungkinan tak terbatas dalam bermain-main dengan makna yang berbeda, sehingga interpretasi teks yang jelas tidak mungkin dilakukan.

Pada dasarnya tujuan utama dekonstruksi adalah membongkar apa yang disebut Derrida sebagai “metafisika wujud” atau logosentrisme (pemusatan logos). Pembongkaran ini dimulai sejak karya awalnya yang membahas filsafat fenomenolog Edmund Husserl (1859-1938) diterbitkan dengan judul The Problem of Origins in Husserl’s Phenomenology.

Seperti halnya para filsuf Perancis pada generasinya, filsafat Derrida tidak terlepas dari ilmu linguistik, khususnya linguistik modern yang diperkenalkan oleh Ferdinand de Saussure (seorang strukturalis Perancis). 

Dan Kritik Derrida terhadap metafisika kehadiran dapat kita lihat melalui pandangannya tentang tanda dalam “Structures, Signs and Games in the Discourse of the Human Sciences” (Writing and Difference, 1978):

Demikianlah penjelasan tentang apa itu Dekonstruksivisme, dan siapa tokoh utamanya serta apa yang menjadi fokus  utama atau apa yang ingin dibangun oleh metode dekonstruksivisme dalam kajiannya.

0 Response to "Apa Tujuan Dari Metode Filsafat Dekonstruksivisme Jacques Derrida? "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel