Pemikiran Filsafat Estetika Plato


Profil Plato (427-347 SM) 

Plato adalah seorang filsuf dan ahli matematika Yunani, terutama dari Athena. Dari perspektif sejarah filsafat, Plato termasuk dalam filosof Yunani kuno. Dia adalah penulis Dialog Filosofis dan pendiri Akademi Plato di Athena, sekolah menengah pertama di dunia Barat.

Selain itu, Plato juga memiliki pandangannya sendiri tentang filsafat estetika, berikut adalah pandangan Plato tentang filsafat estetika.

Estetika Menurut Plato

Plato percaya bahwa estetika itu bertahap-tahap atau memiliki tahapan kemudian kecantikan tertinggi dapat dicapai (keindahan mutlak), tahapan-tahapan tertentu menurut Wajiz Anwar, 1980 ialah sebagai berikut :

Pada Tahap Pertama, menurut Plato, orang tertarik pada benda atau tubuh yang indah. Di sini manusia akan mewujudkan kenikmatan dalam bentuk kecantikan fisik (sensual) tidak ada cara untuk memuaskan jiwa. Kemudian kita (manusia) menyadari keindahannya karena benda atau tubuh itu hanyalah pembungkus yang sifatnya lahiriah, maka kita tidak lagi dipengaruhi oleh hal-hal eksternal.

Artinya manusia akan meningkatkan segala perhatiannya pada tingkah laku terhadap yang dicintai, yaitu berkenaan dengan norma kesusilaan (noma morality)secara khusus. hal ini terlihat dari perilaku orang atau hal yang kita sukai.

Pada Tahap Kedua, pengabdian pada norma-norma bersifat yang konkret diatas berkembangkan menjadi cinta moralitas mutlak berupa ajaran tentang kesusilaan.  Dengan kata lain melihat bagaimana manusia harus bertingkah laku yang benar.

Pada Tahap Ketiga, manusia akan mengetahui kesenjangan moral dan pengetahuan, dan manusia akan lebih berusaha mencari keindahan dalam keragaman pengetahuan. Semisalnya orang Yunani biasa berbicara tentang ide dan adat kebiasaan yang indah-indah. Jika manusia sudah mencapai tahap ketiga maka akan membawa umat manusia ke tahap keempat, 

Dan Tahap Keempat ialah keindahan keindahan yang bersifat absolut tentu saja. Di sinilah manusia berhasil melihat keindahan absolut, yakni yang keindahan yang sesungguhnya, keindahan universal dan tertinggi. Dari situlah semuanya berasal dan di sana pulalah semuanya harus kembali.

Seni Menurut Plato

Bagi Plato, seni yang baik adalah seni musik. musik memiliki perannya Ini penting dalam negara dan dapat memengaruhi bidang moral dan politik. dan di dalam ranah moral, musik dapat melembutkan perasaan seseorang (musik sentimental). Dan juga sebaliknya, dalam politik, musik dapat mengubah patriotisme dan pengabdian tanah air. 

Selain seni musik, Retorika atau berbicara di depan umum adalah seni selain musik
Seni praktis (seni yang mengutamakan kegunaan daripada keindahan, kebenaran
atau kepintarannya) maka seni ini lebih bermanfaat bagi para politisi yang tujuannya mendorong orang lain untuk mengikuti tujuan akhirnya. "selalu gunakan retorika dengan tujuan adil" adalah apa yang akhirnya disarankan oleh Plato. 

Dalam hal ini Plato mengakui keberadaan seni dalam pendidikan. Dimana pertanyaan tentang hubungan antara seni dan pendidikan dibahas dalam bukunya yang berjudul Republica, tetapi ketika muncul dalam undang-undang, tidak ada lagi saran untuk seseorang dapat mengutuk seni. Sebaliknya, Plato di sini memperkuat pernyataan tersebut dengan menekankan hubungan satu sama lain. Nilai musik, tarian, paduan suara dipuji pendidikannya, tanpa kesulitan, seni sekarang menjadi guru utama kehidupan.

Menurut Abdul Qadir, 1974: 10, Ketertarikan yang tajam dari ide-ide Plato ini disebabkan oleh hubungan harmonis antara seni dan kehidupan, dari mana ia membuka gerbang perhatian untuk mendidik retoris dan sintesis instruksi dan kesenangan yang menjadi ciri teori pedagogi seni. Hasilnya adalah tentang konsep seni sebagai baik, benar dan Indah. 

Seniman Menurut Plato

Plato dalam bukunya The Republica, 
Ia mengungkapkan pendapatnya yang telah begitu negatif untuk Seniman. Baginya hanya negarawan yang mendapatkan status yang lebih tinggi (kehormatan) diantara manusia pencipta atau seniman, karena mereka (negarawan) bahwa mereka melayani masyarakat didasarkan dari gagasan tentang kebaikan, keadilan, kebenaran, keindahan. 

Sedangkan seniman hanya meniru ide keindahan yang ada di dunia ini, yang merupakan perwujudan dari keindahan mutlak atau ilahi yang ada di dunia ide. Artis sebenarnya adalah Demiurges (Dewa) yang menciptakan bentuk alam semesta dengan meniru ide dunia abadi. Namun di antara seniman yang ada, Plato memiliki pandangan yang positif untuk penulis dan penyair.

Sastrawan dalam Pandangan Plato

Tulisan-tulisan Plato, termasuk sastra Yunani klasik ditulis dengan gaya bahasa yang indah. Dalam dialog bertajuk "The Symposium", ia Plato berpendapat bahwa tuturan lisan dengan gaya bahasa yang indah merupakan hasil pengaruh ilahiah, di mana penuturnya dirasuki roh. Di sini Plato secara implisit mengacu pada teori “partisipasi”, seorang penulis dapat menulis dan bernyanyi dengan indah karena dia “berpartisipasi” dalam perspektif dan esensi para dewa, dia seolah-olah terangkat dari dirinya sendiri (ekstase), berada di atas awan dalam ranah pemikiran, gagasan karena melihat kenyataan. Mengutip Dick Hartoko, 1983:31-32.

Penyair dalam Pandangan Plato

Mengutip dari Abdul Kadir, 1976:7, menurut Plato, uisi-puisi indah ini bukanlah karya manusia, melainkan mahakarya langit atau ciptaan Tuhan, sedang penyair hanyalah penafsir Tuhan. Lewat teori Partisipasi yang bisa dibawa oleh seorang penyair yang rendah derajatnya dapat menyanyikan dengan baik, penyair memiliki "kekuatan mistik" yang bersifat ilahiah. Seniman tidak lagi meniru, tetapi mengakuisisi karya dari Tuhan, artinya mendapatkan inspirasi dari kekuatan ilahiah. 

Demikianlah penjelasan tentang estetika atau pemikiran filsafat estetika dari seorang Plato. Dimana Plato adalah salah satu filsuf terkemuka yang membicarakan estetika secara bertahap yang bersifat mutlak. 


0 Response to "Pemikiran Filsafat Estetika Plato"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel