Konsep Kepemimpin Ideal Dalam Prespektif Para Filsuf


Konsep Kepemimpin Ideal Dalam Prespektif Para Filsuf


Ilmu filsafat dikenal sebagai salah suatu proses mencapai kebenaran pengetahuan secara universal. Dibalik itu ada para Filsuf sebagai orang-orang yang berusaha memahami segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan. diantara hal yang dipikirkan ialah termasuk mendalami tentang idealnya atau pemikiran-pemikiran penting tentang kepemimpinan. 

Dimana Ide-ide tentang kepemimpinan yang baik dan revolusioner telah tertanam lama di dalam bentang sejarah dari era klasik hingga kontemporer kini.

Beberapa filsuf diantara ratusan atau bahkan ribuan para filsuf yang memberikan pandangan tentang konsep kepemimpinan dan sikap pemimpin yang ideal menurut saya yang wajib diketahui ialah sebagai berikut :

1. Plato

Dalam bukunya yang berjudul Republik, Plato menitik beratkan idealnya seorang pemimpin harus memiliki karisma dan pengetahuan tentang kepemimpinan yang memadai. Maka dengan itu, Plato mengungkapkan bahwa pemimpin atau kepemimpinan sebagai wujud dari bakat, pemimpin karismatik, pemimpin karunia ilahi.


Lebih daripada itu, filosofi kepemimpinan yang dibangun oleh Plato lebih menekankan tentang pentingnya membentuk moralitas kepemimpinan yang baik dan sebagaimana hal ini dicapai melalui daftar pendidikan dan budaya yang sejalan dengan kebutuhan.

Plato menjelaskan prespektif kepemimpinannya dengan merumuskan ide tentang filsuf raja. Dimana filsuf raja sebagai gambaran dari pemimpin politik dari masyarakat yang didasari oleh pengetahuan filosofis yang mendalam, yakni pengetahuan tentang segala sesuatu yang esensial atau tak berubah (Idea) dan masyarakat yang memiliki pengetahuan yang goyah atau labil serta tidak dapat di percayai. 

Pada intinya, kepemimpinan menurut Plato ialah sikap kepribadian yang bisa membedakan mana yang penting dan mana yang tidak penting, atau mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu dan apa saja yang tidak harus.

2. Aristoteles

Berikut pandangan dari salah satu filsuf terkemuka di muka bumi yakni, Aristoteles. Aristoteles sendiri menawarkan satu ide, yakni aristokras, kepemimpinan oleh beberapa orang tercerahkan, yang merupakan orang-orang terbaik di suatu masyarakat. Kumpulan orang-orang yang dimaksud ini memiliki keutamaan hidup, dan sama seperti filsuf, raja.

Terlebih konsep penting di dalam Aristokrasi adalah keutamaan, yang memiliki arti sikap baik yang tampak nyata dalam hidup sehari-hari, dan muncul dari kebiasaan hidup, Sebab secara sederhana kepemimpinan menurut Aristoteles lebih kepada pengendalian diri, sikap dan pikiran yang biasanya ditemukan pada orang yang berpengetahuan atau dapat dikatakan tercerahkan.


3. Machiavelli

Pada abad pertengahan Eropa kala itu, lahirlah seorang anak di Italia yang dikemudian hari dikenal sebagai seorang filsuf yang aktif mengambil bagian dalam membahas perkara-perkara politik. Ia dikenal dengan nama lengkap Nicolo Machiavelli.

Nah, terdapat dua argumen besar yang penting untuk teori tentang kepemimpinan menurut Machiavelli.

Pertama, ialah politik tanpa moralitas, yakni berusaha mewujudkan tujuan-tujuan baik dari politik, walaupun dengan cara-cara yang "kurang bermoral".

Kedua, tentang pentingnya pencitraan di dalam politik (lebih baik ditakuti daripada dicintai oleh rakyat). Secara esensi argumen penting yang ingin dibangun oleh seorang Machiavelli dalam konteks kepemimpinan politik adalah tentang kecerdikan. Dimana sifat cerdik berarti orang yang tahu tentang kapan harus menggunakan kelembutan ataupun menggunakan kekerasan dalam aktivitas berpolitiknya.

4. Imanuel Kant

Immanuel Kant adalah seorang Filsuf kelahiran Jerman. Ia menulis buku dengan judul Zum ewigen Frieden, berarti Menuju Perdamaian Abadi. Dimana dalam buku ini, Kant menjelaskan tentang ide besarnya yang cukup penting yaitu, tentang kepemimpinan dunia dari atas dasar prinsip-prinsip rasional yang. 

Dengan kata lain, kepemimpinan harus menggunakan pemikiran rasional di dalam setiap pembuatan atau pengambilan suatu keputusan. Dalam hal ini, rasionalitas, atau akal budi, lebih digunakan ketimbang hanya untuk kepentingan pribadi, tapi lebih daripada itu juga untuk menata kehidupan warga negaranya (masyarakat).

Terlebih, sebagai pendorong utama perubahan dalam kehidupan masyarakat, karena jika mereka memiliki pemikiran rasional dengan dasar pemikiran kritis maka akan terciptanya kestabilan antara pemimpin dan masyarakat dalam menjalani kehidupan bernegara..

Terimakasih..

0 Response to "Konsep Kepemimpin Ideal Dalam Prespektif Para Filsuf"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel