Menyelami Cara Berpikir Agama Seorang Gus Dur

Menyelami Gagasan Dasar Seorang Gus Dur
Gus Dur dan Rakyat Papua

Gus Dur, panggilan akrab untuk seorang mantan Presiden Keempat Republik Indonesia yang bernama lengkap KH. Abdurahman Wahid. Di indonesia, siapakah yang tidak mengenal Gus Dur, seorang Agamawan, Cendikiawan, Politisi. dalam pandangan sebagian besar tokoh dan pengikutnya mengakui bahwa Gus Dur juga merupakan seorang filsuf indonesia di era modern.

Sebab Gus Dur sendiri memiliki pemikiran yang luar biasa yang berkaitan dengan berbagai persoalan indonesia, terlebih khusus terkait kemajemukan dan agama. tidak hanya dikenal sebagai politisi, selain itu juga sebagai pemikir politik dengan konsep politik yang terkenal cukup moderat dan visioner.

Sebelum itu, dalam pergerakan politik maupun pergerakan berbangsa dan berkehidupan sosial, Gus Dur di pandang begitu bersahaja dengan kritikan yang membangun di era Orde Baru (Orba), dengan perangai yang terkadang unik dan lucu namun sejalan dengan logika publik. Bahkan setelah menjadi Presiden Republik Indonesia, Gus Dur masih seringkali mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tak diduga-duga, tetapi menjadi penyegaran di masyarakat luas.

Atas dasar ini, tidak kurang dari sebagian besar orang yang tidak hanya mengakui Gus Dur sebagai Cendikiawan, Agamawan, Filsuf, Politisi. sebagai seorang yang memiliki latar belakang aktivis yang terkenal dengan gaya mengutarakan kritiknya dengan satire dan anekdot-anekdot yang menghujam ke akar permasalahan.

Meskipun begitu harus diakui bahwa gaya berpikir yang unik dan kritisnya ini banyak menuai kontroversi-kontroversi, namun sekali lagi Gus Dur tetaplah Gus Dur yang hidup dengan pergulatan intelektual yang menyusuri lorong-lorong masa depan yang mungkin belum dapat diterima khalayak pada masa itu. Terlebih hal ini didorong oleh dirinya yang tak sabar untuk mempersembahkan pengetahuannya untuk kehidupan sosial yang adil, toleran, damai dan sejahtera di saat umat manusia belum siap menerimanya.

Seperti yang tertuliskan dalam buku "Samudera Kezuhudan Gus Dur". Sebab itulah sebagian golongan menyebutkan pikiran dan gagasan Gus Dur satu abad melampaui zamannya. dimana umat manusia kala itu belum mengetahui dan belum sampai pada titik itu, namun Gus Dur sudah memaparkannya untuk kepentingan orang banyak.


Menurut KH. Husein Muhammad, Kondisi manusia yang belum siap itulah yang membuat mereka belum paham dan tidak langsung setuju dengan pemikirannya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, umat manusia mulai bisa dan pintar untuk memahaminya.

Dengan itu, maka menurut saya, Gus Dur adalah seorang manusia yang hidup dengan kekurangan fisiknya namun memiliki kesempurnaan dalam pemikiran dan spritual, begitulah konsep keadilan sang Maha Kuasa. Ungkapan ini pernah saya utarakan ketika berdiskusi mengenai upaya melihat sikap Gus Dur dalam menjalani kehidupan sosial maupun kehidupan politik dengan penyesuaian agama yang dianutnya. Perkataan secara spontan ini terucap karena dapat dikatakan bahwa Gus Dur adalah satu-satunya tokoh di Indonesia yang disenangi enam dari Agama yang diakui di Indonesia.

Pertanyaan umum terkait bagaimana Gus Dur menampilkan agama dalam hidupnya atau meletakkan posisi dirinya secara pemikiran maupun sikapnya, pernah di jawab oleh sahabatnya sendiri yang bernama KH. Hasyim Muzadi, yang mengatakan bahwa, Gus Dur di dalam membawa agama selalu memakai tiga pendekatan. Pendekatan Filosofis, Pendekatan Etis dan Pendekatan Humanis.

Pendekatan pertama ialah pendekatan filosofis, artinya makna agama tidak hanya sekedar sebagi teks agama.
Pendekatan kedua ialah Pendekatan etis, dimana agama di tampilkan sebagai kesopanan universal.
Dan pendekatan ketiga ialah Pendekatan humanis, sehingga agama harus wujud didalam sebuah persaudaraan kemanusiaan yang utuh.

Nah ketiga pendekatan ini mengalah pendekatan legal formal didalam agama, jadi tidak terlalu memikirkan halal atau haram, tapi yang sebaiknya untuk manusia seperti apa. dan melalui ketiga pendekatan ini juga memperlihatkan bahwa Gus Dur tidak bertumpu kepada fiqih agama semata tapi bertumpu pada esensi agama itu. 

Disini juga yang tidak pernah lepas dipegang adalah teologi, tapi wujud dari teologi itu harus berupa humanitas, etika dan filosofis. Sebab menurut Gus Dur, agama-agama itu semuanya sama kecuali teologi maka yang sama jangan di bedakan dan yang bedah tidak juga dipaksakan. sehingga dengan demikian akan terjadi persaudaraan yang sejati, bukan hanya persaudaraan strategis atau persaudaraan politis.

Sekarang, dapat dikatakan bahwa pemikiran dan makna agama menurut Gus Dur, harus diresapi sebagai sikap dimana agama di pandang sebagai sebuah jembatan persaudaraan bagi bangsa dan toleransi dengan tanpa paksaan harus di resapi kedalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. 

Terima Kasih..

0 Response to "Menyelami Cara Berpikir Agama Seorang Gus Dur"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel